Selasa, 20 Januari 2015

Jangan sia-siakan gandenganmu

“Shodaqollohul’adziim…”
Berakhirlah lantunan ayat suci yang kudengar dari ruang sebelah. Seperti biasa, di pagi yang masih gelap ini saudariku telah menyelesaikan tilawah satu juz. MasyaAllah, mujahadahnya begitu luar biasa. Semoga semakin istiqomah dengan one day one juz nya.

Kemudian tak berselang lama, kulihat saudariku sudah mulai sibuk dengan rutinitas paginya untuk siap-siap berangkat ke kantor. Subhanalloh… Sungguh, bukan waktu sisa yang dia berikan untuk Rabb-nya. Dia dahulukan tilawah sebelum melakukan aktivitas yang lainnya.

Namun,kurasa ada yang kurang dengan apa yang kusaksikan. Ada yang terasa janggal. Aku coba berpikir lagi, aku coba mengingat lagi sebelum akhirnya kusampaikan suatu hal yang kurasa penting untuk saudariku yang sangat kucintai itu.

Alhamdulillah, aku kembali mengingat materi yang pernah disampaikan oleh seorang ustadz dari Purworejo dalam sebuah kajian yang kuhadiri.
Sama-sama mengucapkan lafadz basmalah, bismillaahirrohmaanirrohiim, tapi kenapa ucapan basmalah yang keluar dari seorang Nabi Musa bisa membuat lautan merah terbelah? Lalu, ucapan basmalah yang keluar dari seorang Nabi Muhammad SAW bisa membuat beliau tidak tampak dari penglihatan kaum kafir quraisy?
Kita semua sama-sama berdoa, seperti apa yang Allah perintahkan. “Ud’unii astajiblakum…” Namun, mengapa doa orang-orang shaleh lebih didengar? Apakah Allah pilih kasih?
Jawabannya adalah karena gandengan doanya. Orang-orang shaleh terdahulu menggandeng doa-doa mereka dengan amal shaleh yang luar biasa. Nabi Muhammad yang maksum (terbebas dari dosa) saja dalam sehari beristighfar begitu banyak, sedangkan kita yang memiliki begitu banyak dosa, dalam sehari berapa banyak lafal istighfar terucap dari mulut kita? Seringnya justru doa-doa kita gandeng dengan perbuatan-perbuatan yang sama sekali jauh dari kebaikan, misalnya ghibah,Astaghfirullah…

Shalat ashar berjamaah di masjid dan setelah itu berdoa. Namun,begitu keluar dari masjid berjalan dengan teman sambil membicarakan aib orang lain. Bagaimana bisa doa-doa kita akan dijabah oleh Allah?
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”(QS.Al-Zalzalah: 7-8)
Kita memang manusia biasa, tapi sebenarnya kita juga bisa memperoleh apa yang Allah berikan terhadap hamba-hamba-Nya yang shaleh terdahulu. Yaitu dengan melakukan amal-amal shaleh dalam rangka meraih pertolongan-Nya, yaitu shalat berjamaah di awal waktu di masjid (untuk laki-laki) diiringi shalat sunnah rawatib,membaca, menghafal, dan mengkaji Al Quran, shalat tahajud, shalat dhuha, puasa sunnah, dzikir dan doa, serta sedekah.
“Kak, maaf sebelumnya, mau tabayun, tadi setelah tilawah aku lihat langsung tutup mushaf dan langsung sibuk beres-beres, apa sudah berdoa setelah tilawah?”kutanya hati-hati agar tak menyinggung perasaannya.
Lalu beliau hanya tersenyum. Kulihat dia tak akan berbicara maka kulanjutkan perkataanku. “Cuma ingin mengingatkan  ketika kita selesai tilawah, itu termasuk waktu yang sangat baik untuk berdoa. Kita sudah dapet free tiket doa mustajab karena akan ada malaikat yang mengaminkan. Bukankah malaikat akan mendatangi orang-orang yang membaca Al Quran dan turut mendengarkan?”Saudariku manggut-manggut.
“Sungguh, akan sangat rugi jika kita menyia-nyiakan kesempatan itu. Kita sudah punya yang buat digandeng dengan doa kita, tapi kita malah lupa berdoa.”
Ya, aku juga kadang masih begitu. Begitu kututup mushaf, aku sering langsung beranjak. Aku lupa berdoa. Padahal pada kesempatan itu ada begitu banyak malaikat yang akan meng”amin”kan doa kita.
Ikhwah fillah… Momen setelah kita tilawah itu adalah momen yang sangat disayangkan untuk kita lewatkan. Jangan sia-siakan gandengan yang sudah kita miliki. Gandengan berupa satu juz yang kita baca atau beberapa ayat yang kita baca itu adalah pemberat doa yang kita panjatkan.
Satu doa yang menurutku harus kita panjatkan selain doa-doa lainnya adalah doa agar Al Quran yang kita baca tak hanya sampai di tenggorokan kita, tetapi masuk ke dalam hati kita. Hingga akhirnya dapat tercermin dalam perilaku, tutur kata, dan tingkah laku kita.
Allohummarkhamnaa bil qur’an…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar