Minggu, 19 Januari 2014

Afatul Lisan

Kita memliki dua mulut dan satu telinga agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Al Isra: 53)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(An Nahl:125)

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Takutlah pada neraka, walau dengan sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka dengan ucapan yang baik. (Muttafaq alaih)
Ucapan yang baik adalah sedekah. (HR. Muslim)

Keutamaan diam
Lidah tidak bertulang, tapi dia lebih tajam daripada pedang.

Barangsiapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya (kumis dan jenggot), dan antara dua pahanya, maka dia akan masuk surga. (HR Bukhori)

Tidak akan istiqomah iman seseorang sehingga istiqomah hatinya. Tidak akan istiqomah seseorang sehingga istiqomah lisannya. (HR. Ahmad)

Ketika Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan masuk surga, Rasul menjawab: “Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Dan ketika ditanya tentang penyebab masuk neraka, Rasul menjawab: “Dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan. (HR. At Tirmidzi)

Rasulullah SAW Bersabda: “Barangsiapa yang bisa menjaga mulutnya, Allah akan tutupi keburukannya” (HR. Abu Nuaim)

Ibnu Mas’ud berkata: “Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama aku penjarakan dari pada mulutku sendiri”
Abu Darda berkata: “Perlakukan telinga dan mulutmu dengan obyektif. Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak mendengar dari pada berbicara.

Ucapan yang keluar dari mulut kita dapat dikategorikan dalam empat kelompok:
  1. Murni membahayakan
  2. Ada bahaya dan manfaat
  3. Tidak membahayakan dan tidak manfaat
  4. Murni bermanfaat.
Ucapan pertama dan kedua sudah jelas harus kita jauhi, sedangkan ucapan ketiga adalah sesuatu yang sia-sia, jadi sebaiknya juga ditinggalkan. Maka tinggallah yang keempat. Ucapan yang bermanfaat.

-Macam-macam Afatul Lisan-
  1. Menjaga lisan dari berbicara sesuatu yang tidak perlu.
Rasulullah SAW bersabda: “Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan” (HR. At Tirmidzi)

Ucapan yang tidak perlu adalah ucapan yang seandainya anda diam tidak berdosa, dan tidak akan   membahayakan diri maupun orang lain. Seperti menanyakan sesuatu yang tidak diperlukan. Contoh pertanyaan ke orang lain “apakah anda puasa, jika dijawab YA, membuat orang itu riya, jika dijawab TIDAK padahal ia puasa, maka dusta, jika diam tidak dijawab, dianggap tidak menghormati penanya. Jika menghindari pertanyaan itu dengan mengalihkan pembicaraan maka menyusahkan orang lain mencari – cari bahan, dst.

Penyakit ini disebabkan oleh keinginan kuat untuk mengetahui segala sesuatu. Atau basa-basi untuk menunjukkan perhatian dan kecintaan, atau sekedar mengisi waktu dengan cerita-cerita yang tidak berguna. Perbuatan ini termasuk dalam perbuatan tercela.

Terapinya adalah dengan menyadarkan bahwa waktu adalah modal yang paling berharga. Jika tidak dipergunakan secara efektif maka akan merugikan diri sendiri. selanjutnya menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulut akan dimintai pertanggung jawabannya. ucapan yang keluar bisa menjadi tangga ke sorga
atau jaring jebakan ke neraka. Secara aplikatif kita coba melatih diri senantiasa diam dari hal-hal yang tidak diperlukan.

2.Menjaga lisan dari Fudhulul kalam (Berlebihan dalam berbicara)

Firman Allah : “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh bersedekah, berbuat ma'ruf, atau perdamaian di antara manusia” QS An Nisa:114)

Perbuatan ini dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Ia mencakup pembicaraan yang tidak berguna, atau bicara sesuatu yang berguna namun melebihi kebutuhan yang secukupnya. Seperti sesuatu yang cukup dikatakan dengan satu kata, tetapi disampaikan dengan dua kata, maka kata yang kedua ini “fudhul” (kelebihan).

Rasulullah SAW bersabda : “Beruntunglah orang yang dapat menahan kelebihan bicaranya, dan menginfakkan kelebihan hartanya “ HR. Al Baghawiy.
Ibrahim At Taymiy berkata : Seorang mukmin ketika hendak berbicara, ia berfikir dahulu, jika bermanfaat dia ucapkan, dan jika tidak maka tidak diucapkan. Sedangkan orang fajir (durhaka) sesungguhnya lisannya mengalir saja
Berkata Yazid ibn Abi Hubaib :”Di antara fitnah orang alim adalah ketika ia lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Jika orang lain sudah cukup berbicara, maka mendengarkan adalah keselamatan, dan dalam berbicara ada polesan, tambahan dan pengurangan.

 3. Al Khaudhu fil bathil (Melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil)
Pembicaraan yang batil contohnya adalah ghibah. Membicarakan aib orang lain.
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan ucapan yang Allah murkai, ia tidak menduga akibatnya, lalu Allah catat itu dalam murka Allah hingga hari kiamat” (HR Ibnu Majah)
Allah SWT menceritakan penghuni neraka. Ketika ditanya penyebabnya, mereka menjawab: “ …dan adalah kami membicarakan yang batil bersama denganorang-orang yang membicarakannya” (QS. Al Mudatsir:45)

Tidak duduk bersama orang yang sedang melakukan pembicaraan bathil--> ”…maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS.An Nisa:140)
  
4. Menjaga lisan dari AL Jidal (Berbantahan/perdebatan)
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah Allah, kecuali mereka melakukan perdebatan. (HR. At Tirmidzi).
Perdebatan biasanya disebabkan oleh rasa tinggi hati, karena adanya kelebihan yang dimiliki oleh seseorang.
Imam Malik bin Anas berkata: “Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan kekesalan.”

5. Menjaga lisan dari Al Khusumah (pertengkaran)
Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang bermusuhan dan suka bertengkar” (HR Al Bukhari)
  
6. Menjaga lisan dari Taqa’ur fil kalam (Menekan ucapan)
Taqa'ur fil-kalam maksudnya adalah menfasih-fasihkan ucapan dengan mamaksakan diri bersyaja' dan menekan-nekan suara, atau penggunaan kata-kata asing di depan orang yang dimungkinkan tidak mengerti maknanya.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat, adalah orang-orang yang buruk akhlaknya di antara kamu, yaitu orang yang banyak bicara, menekan-nekan suara, dan menfasih-fasihkan kata”. (HR. Ahmad)

Tidak termasuk dalam hal ini adalah ungkapan para khatib dalam memberikan nasehat, selama tidak berlebihan atau penggunaan kata-kata asing yang membuat pendengar tidak memahaminya. Sebab tujuan utama dari khutbah adalah menggugah hati, dan merangsang pendengar untuk sadar. Di sinilah dibutuhkan bentuk-bentuk
kata yang menyentuh.

7. Berkata keji, jorok dan caci maki

Berkata keji, jorok adalah pengungkapan sesuatu yang dianggap jorok/tabu dengan ungkapan vulgar, misalnya hal-hal yang berkaitan dengn seksual, dsb. Hal ini termasuk perbuatan tercela yang dilarang agama. Nabi bersabda : “Jauhilah perbuatan keji. Karena sesungguhnya Allah tidak suka sesuatu yang keji dan perbuatan keji” dalam riwayat lain :”Surga itu haram bagi setiap orang yang keji”. (HR. Ibnu Hibban)
“Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujat, mengutuk, berkata keji dan jorok” (HR. At Tirmidzi)

Ada seorang A'rabiy (pedalaman) meminta wasiat kepada Nabi :
Sabda Nabi : “Bertaqwalah kepada Allah, jika ada orang yang mencela kekuranganmu, maka jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Dan janganlah kamu mencaci maki siapapun. Kata A'rabiy tadi : “Sejak itu saya tidak pernah lagi mencaci maki orang”. (HR. Ahmad)

bersambung...

#nasihat yang pas untuk diri sendiri

Minggu, 12 Januari 2014

Memberi/diberi?

Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
(Al Ashr: 1-3)

Surah ini adalah salah satu kunci dalam menjalani hidup ini. Ketika ayat ke 3 dari surah Al Ashr benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan ini, insyaAllah semuanya akan baik. Tak perlu lagi ada penjara mungkin. Karena setiap ada orang yang akan melakukan kejahatan, ada orang lain yang langsung mengingatkannya.
Jangan pernah sungkan untuk saling nasihat menasihati selama itu untuk kebaikan. 

Pernah suatu ketika, khalifah Umar bin Khatab ra. Beliau sedang duduk-duduk di masjid. Lalu masuklah seorang asing dan berkata kepada beliau “Bertaqwalah kamu kepada Allah”
Para sahabat yang sedang bersama Umar pun tidak terima dengan apa yang diucapkan orang asing tersebut. Kalo pake bahasa sekarang mungkin seperti ini “Siapa loe? Berani-beraninya ngomong kaya gitu ke khalifah Umar?”
Namun bagaimana respon Umar bin Khatab?
Beliau menangis. Beliau berkata “Jangan seperti itu, saya senang ketika ada orang yang menasihati saya”.
Subhanalloh..

Kita seringkali mengecilkan nasihat dari seseorang. Kita menganggapnya remeh. Terlebih ketika nasihat itu datang dari seorang yang lebih kecil dari kita. Contohnya-->  "Ah anak kecil tau apa.."
Eits.. jangan lupa,, Al insanu makhallul khoto wannisyaan... Manusia itu tempatnya salah dan lupa.
Kita bisa belajar dari buku, dari internet, dan dari segala macam sumber yang bisa kita akses dengan mudah di era global seperti sekarang, tapi jangan lupa,, kita tetap membutuhkan yang namanya interaksi sama orang lain. Karena dengan interaksi akan ada yang mengingatkan ketika kita melenceng. Kalau cuma ngobrol sama buku, nanti kita jadi nyimpulin sendiri, padahal bisa jadi kesimpulan yang kita ambil itu kurang tepat.

--

Umur itu menjadi rahasia Allah. Tak ada satupun orang yang tau kapan ajalnya akan tiba. Dan harus selalu kita ingat bahwa kematian itu adalah yang paling dekat dengan kita. Ketika tiba masanya, tak ada yang bisa memajukan, tak ada yang bisa mengundurkan.
InsyaAllah orang yang baik akan dimatikan dengan cara yang baik. Dengan cara yang mudah, dan dengan cara yang memberikan pelajaran bagi orang yang masih hidup.

Berbuat baik itu bukan hanya MEMBERI. Saling mengingatkan juga sebuah kebaikan.
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (Asy Syu’araa:214)
Dan dalam Hadits yang sangat terkenal “Ballighu ‘annii walau ayah..” Sampaikanlah padaku walau hanya 1 ayat.
Sampaikanlah..
Ketika ada tetangga kita yang kelaparan sementara yang kita punya hanyalah nasi tanpa lauk apakah kita lantas tak memberikannya? Berikanlah.. tak perlu menunggu kita punya nasi dengan lauk 4 sehat lima sempurna. Ketika kita memberikan dengan sesuatu yang terbaik itu memang lebih baik, tapi apakah kita biarkan tetangga yang kelaparan itu menunggu?

--

Memberi,,,
Kenapa kata ini seolah menjadi berat?
Rupanya ada satu hal yang terlupa..
Pendidikan semasa kecil kita tak banyak mengajarkan untuk memberi..
Lebih banyak mengajarkan untuk menerima..
“Nak,, kalau DIBERI sesuatu sama orang ucapkan terimakasih ya..”
“Nak,, sekolah yang rajin biar DAPET ilmu..”
“Nak,, sekolah yang tinggi biar DAPET kerja..”
Padahal islam sudah jelas-jelas mengajarkan bahwa Al Yadul ‘ulya khoirum minal Yadis sufla.. “Tangan diatas itu lebih baik daripada tangan di bawah”.
Coba bandingkan dengan ini..
"Nak,, sekolah yang rajin agar nanti bisa mengajarkan ilmunya ke orang lain.."
"Nak,, sekolah yang rajin agar nanti bisa memberikan lapangan pekerjaan untuk orang lain..."
Orang tua memang tak pernah mengajarkan kita untuk pelit.. TAPI,, pola pengajarannya secara tidak langsung mengarahkan anak untuk lebih suka menerima daripada memberi.
Coba lebih senang mendapat 5juta atau memberi 5 juta? :)
Sungguh, Pasti akan lebih menyenangkan ketika kita memberi..
Pasti akan lebih menyenangkan ketika kita yang berbuat baik pada oranglain..
Tak hanya menerima,, tak hanya menunggu kebaikan..

--

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Adab berinteraksi dengan tetangga.
  1. Menjaga hak-hak tetangga. Ex: menyetel musik tidak keras-keras.
  2. Tidak mengganggu mereka.
  3. Berbuat baik dan menghormati. Minimal dengan berwajah ceria dihadapan mereka.
  4. Memperhatikan dan memeriksa keadaan mereka.
  5. Mendengarkan mereka.
  6. Sabar dengan apapun kondisi mereka.
  7. Menyampaikan kebaikan kepada mereka.
  8. Berbuat baik bersama mereka à amal jama’i.

Karena merekalah orang yang pertama akan menolong kita ketika terjadi sesuatu pada kita. Ketika kita meninggal, siapa yang akan mengurus jenazah kita kalau bukan mereka?

12/1/14
CatatanUntukDiriSendiri

Sabtu, 04 Januari 2014

3M

Alhamdulillah.. bisa kumpul lagi dalam lingkaran.. :) Setelah sekian lama mencari.. Bersyukurlah, masih bisa melingkar,, karena banyak orang islam yang tidak merasakan indahnya ukhuwah islamiyah. Nikmat kebahagiaan itu adalah nikmat yang tidak terhingga besarnya. Banyak orang yang punya banyak nikmat tapi tidak merasakan kebahagiaan.
Tidak semua orang bisa masuk surga. Dan surga itu tidak diperoleh dengan mudah. Jadi kalau kita masih enak-enak aja, masih belum susah, kita perlu menanyakan lagi pada diri ini, apakah kita akan masuk kesana nantinya? Sementara kita ingat begitu banyak sahabat yang bersusah payah berjihad untuk memperoleh Ridha dan surgaNya.
Apa yang sudah kita persiapkan untuk bertemu dengannya? Harta? Ibadah kita? perbuatan baik kita pada orang lain? Apakah itu sudah cukup? Sementara kita tidak pernah tau kapan Allah akan memanggil kita kembali menghadapNya.
**
Sering kita merasa bahwa apa yang telah dilakukan selama ini sudah merupakan sesuatu yang terbaik, tapi ternyata masih jauh,,, masih banyak hal yang lebih baik.
**
Hari ini dapat ilmu baru tentang akhlak. Alhamdulillah.
Dalam QS. Al Qalam: 4 “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
“Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an” (HR Bukhori)
Sungguh, akhlak terbaik adalah akhlak Rasulullah SAW. Tak perlu kita mencari cari panutan lain dalam berakhlak. Cukup Nabi Muhammad SAW.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di bidangnya, Kualitas baca tulis di Indonesia pada tahun 2011 menduduki peringkat 62, dan hebatnya, pada tahun 2012 peringkatnya menjadi 64. :)
Dimana letak kesalahannya? Padahal sepertinya kita melihat bahwa kualitas pendidikan di Indonesia sudah cukup bagus. Tapi posisi kita sangat jauh dibelakang dan justru mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Lalu berdasarkan penelitian juga, bahwa 70% kekayaan Indonesia itu dimiliki oleh orang-orang kaya di Indonesia.. sedangkan sisanya dibagi rata kepada seluruh lapisan masyarakat yang lainnya. Sungguh betapa tidak seimbangnya..
Dilansir,, hal ini terjadi karena salahnya pendidikan anak-anak pada usia dini. Karena terlalu mengejar nilai kognitif. Sementara akhlak kurang diperhatikan.
Sungguh, orang-orang barat itu sangat takut jika orang islam benar-benar menerapkan islamnya dengan baik. mereka bisa menguasai dunia. Jadi beginilah sekarang,, pola pendidikan di Indonesia sudah terpengaruh pendidikan barat. Aspek kognitif diagung-agungkan, sementara aspek akhlak dikesampingkan.
Untuk bisa merubah kondisi Indonesia yang sekarang caranya Cuma satu, perbaiki akhlak. Mulai dari diri kita, keluarga kita, tetangga kita, sahabat kita,, dll, Dari hal sekecil apapun yang bisa kita lakuka
Lalu, jangan nyaman di zona nyaman, karena kita juga punya kewajiban untuk merubah bangsa ini. Bukankah sudah jelas dalam hadits-> Man roaminkum munkaron.... “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya, jika tidak kuasa, maka dengan lisannya, jika tidak kuasa maka dengan hatinya.”
**
Jamur-jamur penyakit kecil masih banyak menghinggapi kita. iri, dengki, hasud, rasa ingin menang sendiri, dsb. Rasa ingin menang sendiri ini yang selama ini dipupuk pada anak-anak, hingga ia memiliki rasa ingin menjatuhkan, rasa ingin mengalahkan hingga ketika ia menjadi dewasa. Inilah, yang menyebabkan kesenjangan yang sangat jauh di Indonesia.
Ada tiga kisah nyata yang terjadi di sebuah sekolah Batutis ilmi yang dikelola oleh Bu Siska. Kisah ini menurut saya sangat menggugah.

1. Ada perlombaan shalat yang diadakan oleh sekolah. Bu guru pun menanyakan kepada murid-nya, siapa yang siap untuk ikut lomba? Dan akhirnya 5 orang mengajukan diri. Oke. Mereka pun latihan dengan serius. Beberapa hari menjelang hari perlombaan, ada seorang anak yang bernama Johan bilang ke bu guru, “bu guru, aku mau ikut lomba bu guru”. Johan adalah seorang ABK, anak berkebutuhan khusus. Kita mungkin berfikir kalau kita jadi bu guru ini pasti kita akan berfikir keras bagaimana caranya agar anak ini tidak usah ikut. Tapi ternyata tidak, bu guru ini menanyakan kepada 5 orang yang sudah siap ikut lomba tadi. Bagaimana, apakah Johan boleh ikut?
Dan subhanalloh, mereka membiarkan Johan ikut.
Dan ketika perlombaan berlangsung sudah tentu hal yang kita bayangkan terjadi. ketika teman-temannya ruku, Johan masih berdiri. Pun ketika teman temannya sujud. Alhamdulillah, mereka pun akhirnya tidak memenangkan perlombaan.
Tapi sungguh, bagaimana sikap anak-anak itu setelah perlombaan usai? Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan kekalahan mereka. Mereka tidak berfikir untuk menang. Bagi mereka keberhasilan adalah sebuah proses. Mereka berfikir bagaimana agar temannya tidak sakit hati.
Subhanalloh.. bagaimana dengan kita yang sudah dewasa ini? Lingkungan kita sudah membiasakan kita untuk mengambil sikap bersaing.

2. Kisah anak Bu siska sendiri. Anak bu siska ikut perlombaan sepak bola. Ketika ditanya oleh ibu siska. “Kafka, bagaimana lombanya? Lancar?” “Lancar” jawab kafka. “Berapa skornya?” tanya bu siska. “10:2 aku yang 2”. Jawab kafka dengan bangganya. “Kalah donk?” lanjut ibu. “Iya, tapi aku seneng karena aku udah berjuang mati-matian. Dan lawanku emang bagus.” jawab kafka dengan heppy dan santai. Tak ada sedikit pun raut kesedihan atas kekalahannya itu.
Subhanalloh,, ini sikap seorang anak kecil usia kelas 5 SD, Bagaimana dengan kita ketika mengalami kekalahan?

3. Masih tentang Kafka. Setelah mengikuti perlombaan yang lain, ibu siska bertanya lagi. “Gimana kafka pertandingannya? Lancar?”. “Biasa mah.. 7:4”. “Yang 7 siapa?”tanya ibu siska lagi. “Aku..” jawab kafka datar. “Menang donk?” tanya bu siska lagi. “Iya tapi aku tidak suka, karena dia bukan lawanku. Dia tidak sepadan. Kenapa aku harus ditandingkan dengan dia?”
Subhalloh.. kafka kecil ini,, jiwanya sangat besar,, kalah tak masalah, menang pun tak sesumbar.

Banyak orang baik, banyak orang sholeh, tapi tak banyak orang yang berjiwa besar. Kita masih sering haus akan pujian orang lain. Kita harus sering-sering mempertanyakan hati kita. apakah apa yang kita lakukan sudah benar-benar untuk Allah? Bekerjalah sebaik-baiknya, secara maksimal, dan serahkan hasilnya kepada Allah. Tawakkal. Ketika kita sudah maksimal berjuang namun hasilnya tak sesuai dengan keinginan, maka itulah yang terbaik.
**
Lalu bagaimana cara untuk membangun sikap jiwa besar pada seseorang?
3 M. Tidak Marah, Tidak Melarang, dan Tidak Menyuruh.
Inilah kuncinya. Dan hal ini sangat tepat dilakukan ketika anak masih dalam masa tumbuh kembang. Usia dibawah 7 tahun.

1. Tidak Marah.
Untuk para ibu,, :) tidak mudah memang. Tapi bisa. Kenapa kita tidak boleh marah?
Menurut ilmu sains, ketika seorang anak dilahirkan, ada sekitar 200 milyar sel otak. Yang masing-masing sel itu saling terpisah satu sama lain. Sel itu akan berfungsi ketika tersambung dengan sel yang lainnya. Dan sel itu tersambung ketika ada informasi yang masuk ke dalam otak.
Dan sel itu bisa tersambung 50% selama usia 0-2 tahun, 30% selama usia 2-7 tahun. Dan setelah itu tidak bersambung lagi,, sel-sel otak hanya berkembang.
Dan subhanalloh, ketika seorang anak dimarahi, maka sel tersebut akan putus. Bayangkan saja jika seorang anak sering dimarahi? Apa yang terjadi pada sel-sel otaknya?
Jadi, manfaatkanlah sebaik mungkin usia emas anak 0-2 tahun. Sampaikan informasi-informasi positif padanya. Meskipun dia belum mengerti. Meskipun dia belum bisa memahami. Misalnya ketika sedang menyusui, ajaklah ngobrol,, sampaikan sebanyak mungkin informasi positif padanya.

2. Tidak menyuruh.
Anak yang banyak disuruh akan membuat anak itu tidak punya inisiatif. Dan pada dasarnya seseorang itu tidak suka disuruh. Benar?
Cukup diajari dan diberikan informasi. Pancing dengan kalimat yang tidak menyuruh. “Tolong” itu juga nyuruh lho..
Misal: di kamar berantakan, ada sampah berserakan. Apa yang harus kita katakan pada anak kita?
“Bunda liat banyak sampah disini.. Bunda juga liat ada tempat sampah..” disampaikan dengan tenang.
Dan pastinya krik-krik, anak tak akan langsung berinisiatif untuk langsung membuang sampah. Pancing terus,, hingga akhirnya anak mau membuang sampah, tanpa kalimat perintah dari kita.
Mungkin pada awalnya energi kita akan terkuras banyak. Tapi percayalah,, itu hanyalah awal, untuk menikmati ending yang insyaAllah menyenangkan.
Dan perlu diperhatikan pula, selain tidak menyuruh, jangan pula memberikan hanya satu pilihan pada anak. Misal, “Misal, sudah jam 4 sore, waktunya mandi ni..?” ini kurang baik. coba ganti menjadi “sudah jam 4 sore ni, mau mandi dulu apa maem dulu? “ hal ini mengajarkan anak untuk memiliki banyak pilihan dalam hidupnya. Sehingga dia tidak berfikir bahwa dunia ini tidak menyenangkan karena tidak adanya pilihan-pilihan.

3.  Tidak melarang.
Melarang seringkali membuat anak tidak berani mencoba. Hati-hati dalam memilih kosakata. Kata negatif akan terus diingat dalam memory buah hati. Dan ini akan menghambat tingkat kreatifitas anak.
Dan perlu diingat juga. Jangan berlebihan dalam menyikapi sesuatu. Misalnya ada anak yang berprestasi. Cukup ucapkan hamdalah, dan ucapkan selamat dan terimakasih. Tidak perlu disanjung berlebihan, agar tidak ada kecemburuan. Karena kecemburuan akan menciptakan persaingan.
Toh islam juga mengajarkan kepada kita untuk tidak berlebih-lebihan kan?

So, Pilih kata-kata positif untuk anak. Arahkan, bukan menyuruh, bukan melarang, dan tidak memarahinya. Ini adalah sebagai upaya agar anak memiliki jiwa besar. Agar anak belajar tanpa paksaan, tanpa tekanan, dan niatnya semata karena Allah.
Semoga kita bisa mempraktekan untuk buah hati kita masing-masing. Aamiin.:)
Dan semoga Indonesia menjadi lebih baik kedepannya. Aamiin..:)