Sabtu, 01 Maret 2014


Ya Rabb...
 
Dengan mata yang seperti apa kami akan kembali kepadaMu?
dengan mata yang senantiasa melihat maksiat
atau 
dengan mata yang senantiasa mencari RidhoMu karena selalu melihat tempat sujud?

Dengan mulut yang seperti apa kami akan kembali kepadaMu?
dengan mulut yang senantiasa berkata kotor, sombong, angkuh, menyakiti orang lain
atau
 
dengan mulut yang senantiasa bertasbih, tahmid, tahlil, bershalawat kepada rasul, dan mengagungkan asma Mu?

Dengan telinga yang seperti apa kami kembali kepadaMu?
apakah dengan telinga yang senantiasa mendengar adzan tapi tidak mau menghadapMu
atau
 
dengan telinga yang senantiasa mendengar kalam-kalam Mu?
Dengan kaki dan tangan yang seperti apa kami kembali kepadaMu?
dengan kaki dan tangan yang senantiasa kami bawa kepada maksiat
atau
 
dengan kaki dan tangan yang senantiasa mencari RidhoMu?


Rabb...
Jadikan kami hamba Mu 
Jadikan kami hamba Mu
Jadikan kami hamba Mu

Minggu, 19 Januari 2014

Afatul Lisan

Kita memliki dua mulut dan satu telinga agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Al Isra: 53)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(An Nahl:125)

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Takutlah pada neraka, walau dengan sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka dengan ucapan yang baik. (Muttafaq alaih)
Ucapan yang baik adalah sedekah. (HR. Muslim)

Keutamaan diam
Lidah tidak bertulang, tapi dia lebih tajam daripada pedang.

Barangsiapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya (kumis dan jenggot), dan antara dua pahanya, maka dia akan masuk surga. (HR Bukhori)

Tidak akan istiqomah iman seseorang sehingga istiqomah hatinya. Tidak akan istiqomah seseorang sehingga istiqomah lisannya. (HR. Ahmad)

Ketika Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan masuk surga, Rasul menjawab: “Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Dan ketika ditanya tentang penyebab masuk neraka, Rasul menjawab: “Dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan. (HR. At Tirmidzi)

Rasulullah SAW Bersabda: “Barangsiapa yang bisa menjaga mulutnya, Allah akan tutupi keburukannya” (HR. Abu Nuaim)

Ibnu Mas’ud berkata: “Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama aku penjarakan dari pada mulutku sendiri”
Abu Darda berkata: “Perlakukan telinga dan mulutmu dengan obyektif. Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak mendengar dari pada berbicara.

Ucapan yang keluar dari mulut kita dapat dikategorikan dalam empat kelompok:
  1. Murni membahayakan
  2. Ada bahaya dan manfaat
  3. Tidak membahayakan dan tidak manfaat
  4. Murni bermanfaat.
Ucapan pertama dan kedua sudah jelas harus kita jauhi, sedangkan ucapan ketiga adalah sesuatu yang sia-sia, jadi sebaiknya juga ditinggalkan. Maka tinggallah yang keempat. Ucapan yang bermanfaat.

-Macam-macam Afatul Lisan-
  1. Menjaga lisan dari berbicara sesuatu yang tidak perlu.
Rasulullah SAW bersabda: “Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan” (HR. At Tirmidzi)

Ucapan yang tidak perlu adalah ucapan yang seandainya anda diam tidak berdosa, dan tidak akan   membahayakan diri maupun orang lain. Seperti menanyakan sesuatu yang tidak diperlukan. Contoh pertanyaan ke orang lain “apakah anda puasa, jika dijawab YA, membuat orang itu riya, jika dijawab TIDAK padahal ia puasa, maka dusta, jika diam tidak dijawab, dianggap tidak menghormati penanya. Jika menghindari pertanyaan itu dengan mengalihkan pembicaraan maka menyusahkan orang lain mencari – cari bahan, dst.

Penyakit ini disebabkan oleh keinginan kuat untuk mengetahui segala sesuatu. Atau basa-basi untuk menunjukkan perhatian dan kecintaan, atau sekedar mengisi waktu dengan cerita-cerita yang tidak berguna. Perbuatan ini termasuk dalam perbuatan tercela.

Terapinya adalah dengan menyadarkan bahwa waktu adalah modal yang paling berharga. Jika tidak dipergunakan secara efektif maka akan merugikan diri sendiri. selanjutnya menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulut akan dimintai pertanggung jawabannya. ucapan yang keluar bisa menjadi tangga ke sorga
atau jaring jebakan ke neraka. Secara aplikatif kita coba melatih diri senantiasa diam dari hal-hal yang tidak diperlukan.

2.Menjaga lisan dari Fudhulul kalam (Berlebihan dalam berbicara)

Firman Allah : “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh bersedekah, berbuat ma'ruf, atau perdamaian di antara manusia” QS An Nisa:114)

Perbuatan ini dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Ia mencakup pembicaraan yang tidak berguna, atau bicara sesuatu yang berguna namun melebihi kebutuhan yang secukupnya. Seperti sesuatu yang cukup dikatakan dengan satu kata, tetapi disampaikan dengan dua kata, maka kata yang kedua ini “fudhul” (kelebihan).

Rasulullah SAW bersabda : “Beruntunglah orang yang dapat menahan kelebihan bicaranya, dan menginfakkan kelebihan hartanya “ HR. Al Baghawiy.
Ibrahim At Taymiy berkata : Seorang mukmin ketika hendak berbicara, ia berfikir dahulu, jika bermanfaat dia ucapkan, dan jika tidak maka tidak diucapkan. Sedangkan orang fajir (durhaka) sesungguhnya lisannya mengalir saja
Berkata Yazid ibn Abi Hubaib :”Di antara fitnah orang alim adalah ketika ia lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Jika orang lain sudah cukup berbicara, maka mendengarkan adalah keselamatan, dan dalam berbicara ada polesan, tambahan dan pengurangan.

 3. Al Khaudhu fil bathil (Melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil)
Pembicaraan yang batil contohnya adalah ghibah. Membicarakan aib orang lain.
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan ucapan yang Allah murkai, ia tidak menduga akibatnya, lalu Allah catat itu dalam murka Allah hingga hari kiamat” (HR Ibnu Majah)
Allah SWT menceritakan penghuni neraka. Ketika ditanya penyebabnya, mereka menjawab: “ …dan adalah kami membicarakan yang batil bersama denganorang-orang yang membicarakannya” (QS. Al Mudatsir:45)

Tidak duduk bersama orang yang sedang melakukan pembicaraan bathil--> ”…maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS.An Nisa:140)
  
4. Menjaga lisan dari AL Jidal (Berbantahan/perdebatan)
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah Allah, kecuali mereka melakukan perdebatan. (HR. At Tirmidzi).
Perdebatan biasanya disebabkan oleh rasa tinggi hati, karena adanya kelebihan yang dimiliki oleh seseorang.
Imam Malik bin Anas berkata: “Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan kekesalan.”

5. Menjaga lisan dari Al Khusumah (pertengkaran)
Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang bermusuhan dan suka bertengkar” (HR Al Bukhari)
  
6. Menjaga lisan dari Taqa’ur fil kalam (Menekan ucapan)
Taqa'ur fil-kalam maksudnya adalah menfasih-fasihkan ucapan dengan mamaksakan diri bersyaja' dan menekan-nekan suara, atau penggunaan kata-kata asing di depan orang yang dimungkinkan tidak mengerti maknanya.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat, adalah orang-orang yang buruk akhlaknya di antara kamu, yaitu orang yang banyak bicara, menekan-nekan suara, dan menfasih-fasihkan kata”. (HR. Ahmad)

Tidak termasuk dalam hal ini adalah ungkapan para khatib dalam memberikan nasehat, selama tidak berlebihan atau penggunaan kata-kata asing yang membuat pendengar tidak memahaminya. Sebab tujuan utama dari khutbah adalah menggugah hati, dan merangsang pendengar untuk sadar. Di sinilah dibutuhkan bentuk-bentuk
kata yang menyentuh.

7. Berkata keji, jorok dan caci maki

Berkata keji, jorok adalah pengungkapan sesuatu yang dianggap jorok/tabu dengan ungkapan vulgar, misalnya hal-hal yang berkaitan dengn seksual, dsb. Hal ini termasuk perbuatan tercela yang dilarang agama. Nabi bersabda : “Jauhilah perbuatan keji. Karena sesungguhnya Allah tidak suka sesuatu yang keji dan perbuatan keji” dalam riwayat lain :”Surga itu haram bagi setiap orang yang keji”. (HR. Ibnu Hibban)
“Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujat, mengutuk, berkata keji dan jorok” (HR. At Tirmidzi)

Ada seorang A'rabiy (pedalaman) meminta wasiat kepada Nabi :
Sabda Nabi : “Bertaqwalah kepada Allah, jika ada orang yang mencela kekuranganmu, maka jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Dan janganlah kamu mencaci maki siapapun. Kata A'rabiy tadi : “Sejak itu saya tidak pernah lagi mencaci maki orang”. (HR. Ahmad)

bersambung...

#nasihat yang pas untuk diri sendiri

Minggu, 12 Januari 2014

Memberi/diberi?

Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
(Al Ashr: 1-3)

Surah ini adalah salah satu kunci dalam menjalani hidup ini. Ketika ayat ke 3 dari surah Al Ashr benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan ini, insyaAllah semuanya akan baik. Tak perlu lagi ada penjara mungkin. Karena setiap ada orang yang akan melakukan kejahatan, ada orang lain yang langsung mengingatkannya.
Jangan pernah sungkan untuk saling nasihat menasihati selama itu untuk kebaikan. 

Pernah suatu ketika, khalifah Umar bin Khatab ra. Beliau sedang duduk-duduk di masjid. Lalu masuklah seorang asing dan berkata kepada beliau “Bertaqwalah kamu kepada Allah”
Para sahabat yang sedang bersama Umar pun tidak terima dengan apa yang diucapkan orang asing tersebut. Kalo pake bahasa sekarang mungkin seperti ini “Siapa loe? Berani-beraninya ngomong kaya gitu ke khalifah Umar?”
Namun bagaimana respon Umar bin Khatab?
Beliau menangis. Beliau berkata “Jangan seperti itu, saya senang ketika ada orang yang menasihati saya”.
Subhanalloh..

Kita seringkali mengecilkan nasihat dari seseorang. Kita menganggapnya remeh. Terlebih ketika nasihat itu datang dari seorang yang lebih kecil dari kita. Contohnya-->  "Ah anak kecil tau apa.."
Eits.. jangan lupa,, Al insanu makhallul khoto wannisyaan... Manusia itu tempatnya salah dan lupa.
Kita bisa belajar dari buku, dari internet, dan dari segala macam sumber yang bisa kita akses dengan mudah di era global seperti sekarang, tapi jangan lupa,, kita tetap membutuhkan yang namanya interaksi sama orang lain. Karena dengan interaksi akan ada yang mengingatkan ketika kita melenceng. Kalau cuma ngobrol sama buku, nanti kita jadi nyimpulin sendiri, padahal bisa jadi kesimpulan yang kita ambil itu kurang tepat.

--

Umur itu menjadi rahasia Allah. Tak ada satupun orang yang tau kapan ajalnya akan tiba. Dan harus selalu kita ingat bahwa kematian itu adalah yang paling dekat dengan kita. Ketika tiba masanya, tak ada yang bisa memajukan, tak ada yang bisa mengundurkan.
InsyaAllah orang yang baik akan dimatikan dengan cara yang baik. Dengan cara yang mudah, dan dengan cara yang memberikan pelajaran bagi orang yang masih hidup.

Berbuat baik itu bukan hanya MEMBERI. Saling mengingatkan juga sebuah kebaikan.
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (Asy Syu’araa:214)
Dan dalam Hadits yang sangat terkenal “Ballighu ‘annii walau ayah..” Sampaikanlah padaku walau hanya 1 ayat.
Sampaikanlah..
Ketika ada tetangga kita yang kelaparan sementara yang kita punya hanyalah nasi tanpa lauk apakah kita lantas tak memberikannya? Berikanlah.. tak perlu menunggu kita punya nasi dengan lauk 4 sehat lima sempurna. Ketika kita memberikan dengan sesuatu yang terbaik itu memang lebih baik, tapi apakah kita biarkan tetangga yang kelaparan itu menunggu?

--

Memberi,,,
Kenapa kata ini seolah menjadi berat?
Rupanya ada satu hal yang terlupa..
Pendidikan semasa kecil kita tak banyak mengajarkan untuk memberi..
Lebih banyak mengajarkan untuk menerima..
“Nak,, kalau DIBERI sesuatu sama orang ucapkan terimakasih ya..”
“Nak,, sekolah yang rajin biar DAPET ilmu..”
“Nak,, sekolah yang tinggi biar DAPET kerja..”
Padahal islam sudah jelas-jelas mengajarkan bahwa Al Yadul ‘ulya khoirum minal Yadis sufla.. “Tangan diatas itu lebih baik daripada tangan di bawah”.
Coba bandingkan dengan ini..
"Nak,, sekolah yang rajin agar nanti bisa mengajarkan ilmunya ke orang lain.."
"Nak,, sekolah yang rajin agar nanti bisa memberikan lapangan pekerjaan untuk orang lain..."
Orang tua memang tak pernah mengajarkan kita untuk pelit.. TAPI,, pola pengajarannya secara tidak langsung mengarahkan anak untuk lebih suka menerima daripada memberi.
Coba lebih senang mendapat 5juta atau memberi 5 juta? :)
Sungguh, Pasti akan lebih menyenangkan ketika kita memberi..
Pasti akan lebih menyenangkan ketika kita yang berbuat baik pada oranglain..
Tak hanya menerima,, tak hanya menunggu kebaikan..

--

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Adab berinteraksi dengan tetangga.
  1. Menjaga hak-hak tetangga. Ex: menyetel musik tidak keras-keras.
  2. Tidak mengganggu mereka.
  3. Berbuat baik dan menghormati. Minimal dengan berwajah ceria dihadapan mereka.
  4. Memperhatikan dan memeriksa keadaan mereka.
  5. Mendengarkan mereka.
  6. Sabar dengan apapun kondisi mereka.
  7. Menyampaikan kebaikan kepada mereka.
  8. Berbuat baik bersama mereka à amal jama’i.

Karena merekalah orang yang pertama akan menolong kita ketika terjadi sesuatu pada kita. Ketika kita meninggal, siapa yang akan mengurus jenazah kita kalau bukan mereka?

12/1/14
CatatanUntukDiriSendiri